Pernahkah kita mengeluh dengan keadaan kita yang sekarang ini…
Coba kita amati keadaan di sekeliling kita. Bagi anda yang sering melakukan perjalanan jarak menengah atau seberapa jauhnya yang penting itu rutin. Tidak ada salahnya kita mencoba naik kendaraan umum, bis, kereta, angkutan, dsb. Di dalam bis misalnya, kita jangan hanya tidur, ngelamun, atau bermain hape saja. Kita perhatikan kondisi di dalam kendaraan, sering kita jumpai para pedagang asongan yang menjual beraneka macam barang dagangan mulai dari makanan kecil (snack), mainan anak, perlengkapan rumah tangga, dsb. Kita bayangkan sendiri berapa penghasilan mereka, sangat keras perjuagan mereka dalam mencari nafkah. Jerih payahnya dalam berusaha, mulai dari tempat pemberhentian kendaraan (bus kota), Pernahkah kita mengeluh dengan keadaan kita yang sekarang ini…
Coba kita amati keadaan di sekeliling kita. Bagi anda yang sering melakukan perjalanan jarak menengah atau seberapa jauhnya yang penting itu rutin. Tidak ada salahnya kita mencoba naik kendaraan umum, bis, kereta, angkutan, dsb. Di dalam bis misalnya, kita jangan hanya tidur, ngelamun, atau bermain hape saja. Coba kita perhatikan kondisi di dalam kendaraan, sering kita jumpai para pedagang asongan yang menjual beraneka macam barang dagangan mulai dari makanan kecil (snack), mainan anak, perlengkapan rumah tangga, dsb. Kita bayangkan sendiri berapa penghasilan mereka, sangat keras perjuagan mereka dalam mencari nafkah. Jerih payahnya dalam berusaha, mulai dari tempat pemberhentian kendaraan (bus kota), kemudian turun lagi di tempat pemberhentian lain atau mungkin di terminal. Panas dan capek, jelas menjadi keseharian mereka, itu pun belum tentu mendapatkan hasil yang besar. Sekilas kita saksikan suasana di luar kendaraan, di tempat pemberhentian biasanya terdapat para tukang becak, dapat kita bayangkan sendiri berapa penghasilan mereka. Kalau kita lihat perjuangan mereka dalam mencari penumpang, mungkin kita agak kaget bahkan sedikit bertanya, apa yang mereka lakukan… saat ada bus berhenti menurunkan penumpang mereka ada yang berlari-lari mendekati pintu kendaraan dan menawarkan jasa becaknya kepada penumpang yang baru turun dari kendaraan bus. Kalau lagi bernasib mujur ya mereka bersedia menerima tawaran itu dan begitu sebaliknya mereka dapat tolakan dari orang yang ditawari jasanya, itulah perjuangan..
Tidak jauh beda dengan kondisi di kereta api kelas ekonomi, banyak kita jumpai para pedagang yang hilir mudik di lorong – lorong sisi tempat duduk di dalam gerbong. Lelah karena berjalan, berteriak menawarkan barang dagangan menjadi keseharian mereka. Banyak pembelajaran yang dapat kita ambil dari suasana di dalam kereta ekonomi. Bermacam penjual ada di sana, mulai dari makanan dan minuman, pernak-pernik, mainan anak, dompet, sabuk, peralatan masak, pisau, alat untuk pijat, dsb. Walau terkadang kita merasa risih dengan mereka namun cobalah sedikit kita merenung, memang disinilah ladang mereka, jangan mencaci mereka.
Disisi lain, suatu ketika saya sedang makan di warung tenda, di sana menyediakan menu nasi pecel, sayur, gorengan dan berbagai jenis minuman seperti es teh, teh panas, kopi, dsb. Seperti biasanya dipagi hari saat itu sedang libur akhir pecan saya makan di warung tenda itu. Warung yang tidak jauh dari kost-kost an ku dan searah dengan jalan menuju kantor. Saya makan nasi pecel, telur, temped an minum kopi sachet dengan harga sekitar lima ribuan, itu sudah saya anggap biasa ga terlalu mahal namun juga ga terlalu murah. Disamping saya datanglah seorang Bapak-bapak cukup berumur, kira-kira sudah punya cucu atau minimal anak-anaknya dah pada nikah. Beliau pesan makan pada ibu pemilik warung ini dengan menu yang sederhana, nasi sayur lodeh dan minum air putih yang mana disini disediakan secara cuma-cuma. Nampaknya juga Bapak ini sudah familier makan di tempat ini, dan ketika ditanya oleh Ibu pemilik warung tentang kerjaannya yakni narik becak, beliau menjawab bahwa penumpangnya lagi sepi. Walaupun dah selesai makan duluan namun saya belum beranjak dari kursi tempatku makan, karena saya masih menunggu minumanku biar agak dingin dulu. Saya perhatikan Bapak tadi, makan dengan semangatnya sambil bercucuran keringatnya habis ngayuh becaknya, menandakan bahwa beliau benar-benar sedang lapar. Selesai makan Beliau mengambil uang dari sakunya dua ribu dan segera dibayarkan pada Ibu pemilik warung. Tersentuh hati ini melihat kesederhanaan beliau dan saya merasa bersyukur dengan kenikmatan yang saya terima hingga saat ini. Itu sedikit pelajaran yang saya dapatkan saat itu dan mungkin masih banyak kondisi serupa di tempat lain dan kesempatan lainnya.
Jika kita bersedia merenung sejenak, melihat orang-orang dibawah kita, mengingat nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan pada kita, maka sudah sewajarnya kita harus bersyukur..